indonesia

indonesia

Minggu, 30 Januari 2011

KEMUNDURAN ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN

A.PENDAHULUAN

Dalam sebuah perjalanan hidup pasti seseorang pernah mengalami kesenangan juga pernah mengalami masa kesedihan. Inilah analogi yang bisa digunakan dalam memahami masa-masa islam. Yakni pernah mengalami masa keemasan juga pernah mengalami masa kemunduran atau keterpurukan. Karena inilah roda kehidupan kadang di atas kadang juga di bawah. Masa keemasan islam dicapai pada masa dinasti abbasiyah. Pada masa ini islam mengalami perkembangan yang sangat pesat baik itu di bidang perluasan wilayah maupun dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi islam mulai mengalami kemunduran juga pada masa abbasiyah ini pula, yakni pada akhir kepemimpinan kholifah dinasti ini yang terakhir.
Dari uraian di atas maka penulis akan mengupas sedikit tentang masa kemunduran islam, khususnya pada abad pertengahan. Untuk memfokuskan dalam pembahasan selanjutnya, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: apa penyebab kemunduran islam pada abad pertengahan?. Bagaimana kondisi islam pada masa kemunduran tersebut?. Dengan adanya rumusan masalah seperti di atas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan sebab-sebab kemunduran islam pada abad pertengahan, sekaligus memahami kondisi islam pada masa kemunduran tersebut.
Dengan adanya makalah ini penulis berharap kita dapat mengambil pelajaran dari hal yang terjadi. Supaya kita tidak terperosok dalam lubang yang sama. Karena fungsi dari sejarah adalah sebagai acuan kita untuk melangkah atau mengambil sikap ke depannya.

B.PEMBAHASAN
1.faktor yang menyebabkan kemunduran islam
Ketika sebuah peradaban atau sebuah imperium mengalami kemunduran pastilah ada sebab musababnya, yang mengkibatkan hal itu terjadi. Dalam kaitannya pada masa atau abad pertengahan ini ada beberapa faktor yang menjadikan islam mengalami kemunduran. Jika dilihat dari datangnya faktor tersebut maka dapat dibagi menjadi faktor dari dalam islam sendiri (internal), dan juga faktor yang datang dari luar islam (eksternal). Kedua faktor tersebut adalah:

a.faktor internal

1)Perpecahan dan tidak adanya kesatuan politik
kepemimpinan dalam islam dipandang sebagai amanat dari rakyat sehingga harus tunduk dan patuh kepada syariat islam yang diwahyukan tuhan berupa alquran yang memiliki nilai kebenaran yang absolute. Lambat laun sumber inspirasi dan motivasi yang merupakan motor penggerak dan tali pemersatu mulai ditinggalkan, diganti dengan hawa nafsu berupa ananiah (akuisme) dan shabiyah (sukuisme).

Meski ajaran tauhid telah berusaha menyatukannya, tetapi kadar iman dan kesukuan satu sama lain berbeda. Iman dan islam yang menyatukan kadang kala pecah berantakan dan hilang ingatan pada waktu mereka dilanda emosi. Daya kontrol menjadi lemah, kebersamaan menjadi goyah karena ingin kemenangan atas dasar kesukuan, keakuan dan keuntungan pribadi. Masing-masing di antara mereka membanggakan golongannya.

Desentralisasi dan disintegrasi bertambah meningkat. Ini terbukti dengan terbaginya dunia islam kepada dua bagian, yaitu arab yang terdiri dari Arabia, Irak, Suria, Palestina, mesir dan Afrika Utara, dengan Mesir sebagai pusatnya. Dan bagian Persia yang terdiri dari Balkan, Asia Kecil dan Asia tengah dengan Iran sebagai pusatnya. Kebudayaan Persia yang mengambil bentuk internasional dan demikian mendesak lapangan kebudayaan arab.

Sebenarnya masa disintegrasi tersebut mulai ada pada masa dinasti abbasiyah. Yakni dengan munculnya dinasti-dinasti kecil. Munculnya dinisti-dinasti kecil tersebut dilatar belakangi oleh persaingan antar bangsa ( Arab, Persi dan Turki), di samping faham keagamaan (terutama sunni dan syi’ah). Di samping masa disintegrasi merupakan masa pemisahan dinasti kecil dari kekuasaan pusat (Bagdad). Juga ditandai oleh adanya perebutan kekuasaaan antara dinasti-dinasti tersebut untuk saling menguasai dan menghacurkan.

Diantara dinasti-dinasti kecil yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaaan Bagdad pada masa kholifah abbasiyah, di antaranya adalah:

a)Bangsa Persia
•Thahiriyyah di Khurasan
•Shafariyah di Tars
•Samaniyah di Transoxania
•Sajiyyah di Azerbaijan
•Buwaihiyah, menguasai Bagdad.
b)Bangsa Turki
•Thuluniyah di Mesir
•Ukhsyidiyah di Turkistan
•Ghazwaniyah di Afghanistan
•Dinasti Seljuk dan cabangnya:
.Seljuk Besar atau Seljuk Agung, didirikan oleh Rukn al-Din Abu ThalbTugrul Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Bagdad memerintah selama sekitar 93 tahun (1037-1127 M).
-Seljuk Kirman di Kirman
-Seljuk Syiria atau Syam di Syiria
-Seljuk Irak di Irak dan Kurdisten
-Seljuk Rum atau Asia Kecil di Asia Kecil

c)Bangsa Arab
•Idrisiyyah di Maroko
•Aghlabiyah di Tunisia
•Dulafiyah di Kurdistan
•Alawiyah di Tabaristan
•Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil
•Mazyadiyah di Hillah
•Ukailiyah di Maushil
•Mirdasiyah di Aloppo

d)Bangsa Kurdi
•Al-Barzuqani
•Abu Ali
•Ayubiyah

e)Yang mengaku sebagai khilafah
•Umayyah di Spanyol
•Fathimiyah di Mesir.
Dengan adanya pemisahan diri bangsa bangsa ini menjadikan khalifah sebagai boneka, karena masing-masing bangsa menginginkan untuk berkuasa.

2)Rasa puas diri dan kejumudan berpikir
Hal utama yang menyebabkan kejumudan dalam berfikir antara lain ialah hilangnya daya cipta dan sumber inspirasi. Mereka kurang percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri. Mereka hanya bertaqlid kepada para imam yang terkenal. Pendapat mengenai tertutupnya pintu ijtihad semakn meluas di kalangan umat islam.

3)Membudaya pola hidup mewah dan berfoya-foya dikalangan penguasa.
Hidup mewah ini seperti memikirkan kesenangan diri sendiri. Sebagai contoh memelihara banyak harem, bersenang-senang, dan akhirnya keturunan yang dihasilkan tidak berkualitas. Bentuk dari hidup mewah dan bersenang-senang ini misalnya saja al-Mutawakkil yang memiliki 4000 selir, seorang hakim di bawah pemerintahan al-ma’mun mendayagunakan 400 ghilman (budak lelaki). Ibnu al-musta’in memesan permadani yang berharga 130 juta dirham. Permadani itu berhiaskan lukisan burung yang terbuat dari emas dan intan berlian. Menurut al-Mas’udi, khalifah al-Mumtaz khalifah ke-13 dari dinasti abbasiyah adalah khalifah pertama yang menggunakan pelana emas dan baju berhiaskan emas. Harun al Rasyid menyuruh orang untuk menuliskan namanya pada pualam merah delima yang sangat terkenal di dunia Arab, sebanding dengan Kohinoor di India yang biaya pembuatannya mencapai 40.000 dinar. Dalam hal bermewah-mewah ini seperti yang mengawali keruntuhannya dinasti abbasiyah, mughal dan lain-lain.

b.faktor eksternal

1)Adanya serangan Mongol yang menghancurkan beberapa Negara islam
Sejarah mencatat bahwa dunia islam mengalami kemunduran setelah bangsa mongol mengadakan serangan ke wilayah barat. Satu demi satu wilayah-wilayah islam jatuh ketangannya. Hal ini berawal dari keinginan raja Mongolia Mangu berkeinginan untuk memperluas kekuasaannya. Maka, diperintahkan Kubalai untuk melakukan misi penyerangan ke wilayah timur, sedangkan Hulagu ke wilayah barat untuk menaklukkan pemerintahan kekhalifahan islam.

Dari penyerangan ini Transoxania dan Khawarizm dapat dikalahkan pada tahun 1219 M, Ghazna pada tahun 1221 M, Azerbaijan pada 1224 M, dan Seljuk di Asia kecil pada tahun 1243 M. Setiap daerah yang dilaluinya juga hancur, bangunan-bangunan yang bernilai sejarah, gedung-gedung, dan masjid-masjid musnah dibakar serta pembunuhan-pembunuhan pun terjadi secara besar-besaran.

Serangan bangsa Mongol tidak hanya sampai di sana, tetapi juga Bagdad. Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan juga hancur dibumi hanguskan pada tahun 1258 M. begitu juga dengan perpustakaan terbesar pada masa dinasti abbasiyah yang juga ikut dibakar. kehancuran kota Bagdad ini merupakan pukulan yang menentukan bagi peradaban islam.

Pada tahun 1258 M, tentara mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Bagdad. Kholifah terakhir bani abbasiyah, al-Mu’tashim betul-betul tidak dapat membendung tentara Hulagu Khan. Kota Bagdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah sebagaimana kota yang telah dilalui oleh tentara Mongol tersebut. Menurut catatan, 800.000 orang dibunuh termasuk khalifah Mu’tashim sendiri.

Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Bagdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syiria dan Mesir. Dari Bagdad, pasukan mongol menyeberangi sungai Euphrat menuju Syiria, kemudian melintasi Sinai, Mesir. Pada tahun 1260 M mereka berhasil menduduki Nablus dan Ghaza. Panglima tentara mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir, meminta supaya Sultan Qutuz yang menjadi raja kerajaan Mamalik di sana menyerah. Permintaan itu ditolak oleh Qutuz, bahkan utusan Kitbugha dibunuhnya.

Tindakan Qutuz ini menimbulkan kemarahan di kalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi Yordania menuju Galilie. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang dipimpin langsung oleh Qutuz dan Baybras di ‘Ain Jalut. Pertempuran terjadi, pasukan Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol, 3 september 1260.

2)Terjadinya perang salib
Kejadian perang salib yang berulang-ulang telah menyebabkan jalannya seni dan budaya islam terhenti. Hal ini dipandang pula sebagai menurunnya keunggulan kaum muslimin dalam lapangan politik. Walaupun umat islam dapat mempertahankan daerah-daerahnya dari serangan tentara salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali karena peperangan itu terjadi di wilayah islam.

Ketika perang salib dilancarkan oleh orang-orang Kristen eropa terhadap orang-orang islam di Asia barat dan Mesir, umat islam di Spanyol mendapat serangan dari Negara Kristen tetangganya dari utara. Ada dua faktor utama yang mengawali penyerbuan Kristen ke spanyol islam. Pertama, timbulnya perpecahan yang sering terjadi di kalangan umat islam ditandai oleh lahirnya imarat- imarat kecil, sesudah masa khalifah umayyah di Spanyol.masa ini disebut dengan “mulk al-thawaif” (raja-raja golongan). Kedua, bersatunya umat Kristen di utara Spanyol, terutama di daerah Perancis.

Setelah tentara salib Kristen berhasil merebut satu demi satu kerajaan-kerajaan islam di Spanyol, maka pada tahun 1942 M raja terakhir Abi Abdullah menyerah kepada raja Ferdinand dengan perjanjian sebagai berikut: raja Ferdinand akan melindugi umat islam baik jiwanya, harta bendanya maupun agamanya. Raja Ferdinand kan membiarkan masjid-masjid dan harta wakaf dalam keadaan seperti biasa.

Setelah perjanjian ditandatangani berangkatlah abu Abdullah beserta keluarganya menyeberang ke benua Afrika dan tinggal di Maroko dan setelah itu berakhir kekuasaan islam di Spanyol.

Perjanjian yang telah ditandatangani pada saat penyerahan kota telah dilanggar oleh kaum Kristen, mereka memaksa umat islam Spanyol agar keluar dari agama islam (murtad). Umat islam dinyatakan bersalah sehingga secara masal dihadapkan ke mahkamah taftisy (pengadilan darah). Kaum muslimin dijatuhi hukuman dan siksaan yang menyebabkan banyak korban yang meninggal dunia. Sedangkan yang tidak tertangkap dan melarikan diri ketika diadili memilih keluar dari Spanyol. Dengan demikian lenyaplah umat islam di Spanyol.

Peradaban yang dibina selama berabad-abad lamanya berangsur-angsur dihancurkan oleh tentara Kristen. Gedung-gedung dihancurkan, buku-buku dibakar, masjid-masjid diubah menjadi gereja, akibat dari tindakan ini tanah yang telah menjadi pusat gerakan ilmu pengetahuan dan peradaban pada masa islam, telah menjadi suatu daerah yang sangat mundur bila dibandingkan dengan daerah-daerah yang lain di eropa setelah dikuasai kembali oleh kaum eropa.

3)Terjadinya bencana alam dan berjangkitnya wabah penyakit
Dengan adanya musibah dan berjangkitnya penyakit ini menyebabkan perekonomian tidak stabil, seperti halnya yang terjadi di Mesir pada masa dinasti Fatimiyah dengan istilah syiddatul ‘udzma.

2.kondisi islam pada masa kemunduran

Telah diuraikan di atas, jauh sebelum kemenangan Kristen di barat dan Hulagu di timur, secara intern di tubuh dunia islam sudah kelihatan adanya perpecahan dan perlombaan di kalangan kaum muslimin untuk saling berebut kekuasaan. Sacara sosial politik, setelah masa bani umayah umat islam terpecah ke dalam tiga khalifa besar, yaitu abbasiyah di bagdad, amawiyah di spanyol, dan fatimiyah di mesir. Bahkan sejak abad kesepuluh muncul pula dinasti-dinasti kecil yang otonomi dengan atau tanpa mengakui salah satu khilafah yang ada. Dinasti-dinasti kecil tersebut senantiasa berusaha merebut atau menaklukkan daerah-daerah yang dikuasai oleh dinasti yang lain. Dengan demikian pada masa dunia islam benar-benar telah dilanda krisis yang sangat hebat, sehingga kondisi sosial politik menjadi labil. Sementara itu, pada masa itu, umat islam mendapat serbuan dari luar, seperti yang dibicarakan pada bagian yang lalu, orang Kristen eropa melancarkan perang salib dan gerakan pengusiran islam dari Spanyol, dan di dunia timur, penyerbuan dari bangsa mongol. Akhirnya sedikit demi sedikit dunia islam dikuasai oleh musuh-musuhnya, di bagian barat dikuasai oleh orang Kristen eropa dan di bagian timur di kuasai oleh bangsa mongol. Itulah peta politik pada masa kemunduran islam.

Selanjutnya kondisi sosial politik terebut sangat mempengaruhi situasi peradaban islam pada saat itu. Sebagaimana dinyatakan oleh para sejarawan, pada garis besarnya peradaban islam pada masa itu dihampir semua wilayah mengalami kevakuman, gerak maju seperti pada masa khalifah dinasti umayyah dan dinasti abbasiyah secara tiba-tiba terhenti, malah pada beberapa sektor ambruk. Dengan kata lain, umat islam benar-benar mengalami kemunduran pada aspek sosial budayanya.

Sebagaimana diketahui, bahwa suatu peradaban yang berkembang secara sempurna, jika seluruh aspek atau segi kehidupannya mengalami perkembangan secara fungsional dan dinamis, dan di dalam perkembangannya, menerima adanya keragaman, serta berada dalam keseimbangan antara berbagai aspeknya.suatu peradaban akan pincang dan tidak sempurna pertumbuhan dan perkembangannya, jika kehilangan atau ditinggalkan salah satu atau lebih dari aspek-aspeknya, atau terlalu menekankan pada sebagian aspek dan mengabaikan pada aspek yang lain.

Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa suatu sistem peradaban atau budaya, secara garis besarnya mengandung aspek-aspek: a. agama, b. filsafat, c. kesenian, d. ekonomi, e. sosial politik, f. ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Suatu peradaban yang berkembang dan mendapatkan perhatian dengan seimbang, sehingga antara keenam aspek budaya tersebut, saling memberikan dukungan satu sama lain dalam perkembangannya. Ketinggalan atau kehilangan salah satu atau lebih dari keenam aspek budaya tersebut akan menyebabkan terjadinya ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan sosial atau masyarakat, karena tidak terpenuhinya sebagian dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

Sebagaimana uraian di atas, bahwa kemunduran islam peradaban islam ini sebenarnya adalah ketidakseimbangan perkembangan aspek-aspek peradaban dan budayanya. Masa kemunduran peradaban islam ini ditandai dengan adanya kecenderungan penolakan terhadap terjadinya atau perkembangannya keragaman budaya, dan mengarah kepada berkembangnya aspek budaya rohaniah atau kebatinan yang bercorak dogmatik atau tradisional, serta mengutamakan kehidupan akhirat sehingga meninggalkan aspek-aspek peradaban dan budaya lahiriah yang bercorak rasional dan keduniaan.


C.PENUTUP

Berdasarkan uraian dan penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan mengenai faktor-faktor yang mengawali kemunduran islam pada abad prtengahan adalah sebagai berikut:
1.faktor internal yang meliputi; perpecahan dan tidak adanya kesatuan politik, sehingga Negara islam terbagi ke dalam dinasti-dinasti kecil (mulk al-thawaif) yang dilatar belakangi persaingan antar bangsa seperti Persia, Arab dan Turki. Rasa puas diri dan kejumudan berpikir. Membudaya pola hidup mewah dan berfoya-foya dikalangan penguasa, sehingga harem, berfoya-foya, emas dan intan permata kian menjauhkan orang dari islam yang ideal.
2.faktor eksternal yang meliputi: adanya serangan Mongol yang menghancurkan beberapa Negara islam, sehingga bangunan serta buku-buku ilmu pengetahuan dibumi hanguskan, semuanya dihancurkan, bahkan tempat-tempat yang mereka lalui. Terjadinya perang salib yang banyak merugikan umat islam karena wilayah untuk berperang berada di kawasan islam. Terjadinya bencana alam dan berjangkitnya wabah penyakit, dengan adanya pemasalahan seperti ini pastilah mengganggu jalannya suatu pemerintahan.
Selanjutnya, kondisi umat islam pada masa kemunduran islam adalah pada garis besarnya peradaban islam pada masa itu dihampir semua wilayah mengalami kevakuman, gerak maju seperti pada masa khalifah dinasti umayyah dan dinasti abbasiyah secara tiba-tiba terhenti, malah pada beberapa sektor ambruk. Dengan kata lain, umat islam benar-benar mengalami kemunduran pada aspek sosial budayanya.

DAFTAR PUSTAKA
Juhan, Widda. Sejarah Peradaban Islam. Ponorogo: LPP/STAIN. 2009.

Nurhakim, Moh.. sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press. 2004.

SJ., Fadil. Pasang Surut Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: UIN-Malang Press. 2008.

Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo. 2004.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada. 2006.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Abbasiyah(01/12/2020)

http://khalik0589.wordpress.com/2008/10/30/sejarah-pendidikan-islam-periode-pertengahan-kemunduran/

http://nabilanutrien.blogspot.com/2010/12/perkembangan-islam-abad-pertengahan.html.

http://www.scribd.com/doc/9112080/Sejarah-Daulah-Abbasiyah(01/12/2020)

http:/www.saifalink.co.cl//2010/10/23/masa-kemunduran-dan-runtuhnya-tiga-kerajaan-besar-islam/

MASA KEMAJUAN ABAD PERTENGAHAN

BAB I
PENDAHULUAN

Kerajaan iniSejarah peradaban islam pada periode pertengahan muncul tiga kerajaan islam yang mewakili tiga kawasan budaya, yaitu kerajaan ustmani di turki, kerajaan safawi di persia, dan kerajaan mughal di india. Kerajaan-kerajaan islam yang lain, meski juga ada yang cukup besar, tetapi jauh lebih lemah bila dibandingkan dengan. Meski kajian sejarah islam mendapat porsi yang besar, tetapi terlihat sekali bahwa kerajaan tersebut belum termasuk dalam satu kesatuan kajian sejarah peradaban islam.
Kalau empat kawasan budaya islam tersebut di atas termasuk dalam kajian sejarah peradaban dunia islam, maka indonesia dibahas dalam bagian tersendiri. Islam di indinesia sebenarnya sudah berkembang pada periode pertengahan sejarah islam(1250-1800 M), tetapi kajianya terpisah dalam pembahasan periode itu. Pada periode pertengahan pembahasan yang paling banyak mendapat tempat adalah pencaturan politik “pusat” islam dan peradaban yang dibina oleh dinasti-dinasti yang kebetulan berhasil memegang hegemoni politik, serta tiga kerajaan besar islam (utsmani, safawi, dam mughal).

BAB II
PEMBAHASAN

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN

A.PENGERTIAN
Sejarah perkembangan peradaban Islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: priode klasik (650 -1250 M), periode pertengahan (1250 – 1800 M) dan periode modern (1800 – sekarang).Yang dimaksud abad pertengahan ialah tahapan sejarah umat Islam yang diawali sejak tahun-tahun terakhir keruntuhan Daulah Abbasiyah (1250 M ) sampai timbulnya benih-benih kebangkitan atau pembaharuan Islam yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1800 M.
Periode pertengahan ini juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu masa kemunduran I (1250 – 1500 M). Dan masa kemajuan tiga kerajaan besar (1500 – 1800 M).

B.MASA KEMUNDURAN I (1250 -1500 M.).
1.Dinasti Jengiskhan
Disebut masa kemunduran karena masa-masa ini dunia Islam dalam proses penghancuran oleh bangsa Mongol dibawah pimpinan Jengiskan dan keturunannya serta Timur Lenk yang juga masih keturunan bangsa Mongol. Jengiskhan menganut agama Syamaniah, menyembah bintang-bintang dan sujud kepada Matahari yang sedang terbit. Raja-raja keturunannya yang masih menganut agama Syamaniyah ialah Hulagukhan sampai raja yang ke VI.
Sedangkan mulai dari raja yang VII (Mahmud Ghazan) sampai raja-raja selanjutnya adalah pemeluk Islam. Dinasti Jengiskhan ini dikenal dengan dinasti Ilkhan, yaitu gelar yang diberikan kepada Hulagukhan.

2. Dinasti Timur Lenk
Kedatangan Timur Lenk ke dunia Islam tidak kurang membawa kehancuran , bahkan ia lebih kejam daripada Jengiskan atrau Hulagukhan. Berbeda dengan Jengiskan atau Hulagukhan yang masih menganut kepercayaan Syamaniah, Timur Lenk ini sudah menganut agama “Islam.”Pada tanggal 10 April 1370 M.
Timur Lenk memproklamirkan diri sebagai penguasa tunggal di Tranxosiana. Ia berencana untuk menaklukkan daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Jengiskhan.

3. Kaum Mamluk di Mesir
Satu-satunya penguasa Islam yang dapat memukul mundur tentara Mongolia (Hulagukhan) ialah tentara Mamalik yang saat itu sedang berkuasa di Mesir dibawah pimpinan Sulthan Baybars (1260-1277) sebagai Sulthan yang terbesar dan termasyhur serta dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamalik di Mesir.
Dinasti Mamalik berkuasa sejak tahun 1250 M. menggantikan dinasti Al Ayyubi dan berakhir tahun 1517 M. Karena dapat menghalau tentara Hulagukhan, Mesir terhindar dari penghancuran, sebagaimana dialami di dunia Islam lain yang ditaklukkan oleh Hulagu.Dinasti Mamalik ini mengalami kemajuan diberbagai bidang. Kemenangannya terhadap tentara Mongolia menjadi modal dasar untuk mengusai daerah-daerah sekitarnya.

4.Spanyol
Pada abad pertengahan ini Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M) yang merupakan kekuatan Islam terakhir di Spanyol seteleh kurang lebih 7 abad setengah lamanya menguasai wilayah ini. Kota-kota lain seperti Cordova telah jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1238 M, Sevilla lepas pada tahun 1248 dan akhirnya Granada juga jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1492 M.
Hal ini disebabkan karena terjadinya perpecahan diantara umat Islam terutama orang-orang Istana dalam memperebutkan kekuasaan. Dilain pihak umat Kristen berhasil mempersatukan diri. Abu Abdullah sebagai khalipah terakhir tidak mampu lagi membendung serangan-serangan keristen yang dipimpin oleh Ferdinand dan Isabella, dan akhirnya dia menyerahkan diri, dan dia sendiri hijrah ke Afrika utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol.
Umat Islam setelah itu, dihadapkan kepada dua pilihan, masuk keristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M. boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini. Dunia Islam mengalami kehancuran setelah Khalipah Abbasiyah di Bghdad runtuh, dan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, yaitu: Usmani di Turki, Mughal di India dan Safawi di Persia.

C.MASA KEMAJUAN
1.Kesultanan Usmani
Didirikan oleh Usman, putra Artogol dari kabilah Oghuz di Mongol. Awalnya datang ke Turki untuk meminta suaka politik kepada penguasa Seljuk dari serangan tentara Mongol. Usman dipercaya menjadi panglima perang Dinasti Seljuk menggantikan ayahnya. Setelah Sultan Alauddin wafat, Usman mengambil alih kekuasaan, sejak itu berdirilah Dinasti Usmani.
Dinasti Usmani berbentuk kesultanan yang beribukota di Istanbul, Turki. Berasal dari suku bangsa pengembara yang bermukim di wilayah Asia Tengah, salah satunya suku Kayi. Usman bergelar “Pedisyah Al-Usman”, dibawah kepemimpinannya wilayah kesultanan semakin luas dengan menaklukan beberapa wilayah, seperti Azmir (1327 M), Tharasyanli (1356 M), Iskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Galipoli (1356 M). Pada masa pemerintahan Muhammad Al-Fatih Kesultanan Usmani mengalami puncak kejayaan, dan dapat menaklukan wilayah Byzantum serta Konstantinopel (1453 M) . Kemajuan yang dicapai antara lain:
a.Pemerintahan dan Militer
Tingkatan paling tinggi dipegang oleh Sultan, tingkat kedua perdana menteri atau Sadrazan, tingkat ketiga gubernur atau Pasya, tingkat keempat bupati atau As-sawaziq atau Al-alawiyah. Sistem pemerintahan dan kekuasaan militernya berjalan baik. Muncul kelompok elite militer yang disebut janissary atau inkrisyriyah pada masa Orkhan bin Usman, kelompok ini merupakan kelompok penghancur negeri non-muslim.
b.Pengetahuan dan Budaya
Terjadi akulturasi dari beberapa negara seiring dengan meluasnya wilayah, yaitu kebudayaan Persia, Byzantium, dan Arab. Rakyat Usmani mengambil ajaran tentang etika dan tata krama dari kebudayaan Persia, organisasi dan kemiliteran dari Byzantum, dan ilmu arsitektur dari Arab. Dari ilmu arsitektur tersebut, berdirilah berbagai masjid yang bagus serta kaligrafi indah.
c.Agama
Muncul dua aliran tarekat, yaitu Bektsyi yang banyak pengaruhnya dibidang militer, dan Maulawiyah yang banyak pengaruhnya di lingkungan pejabat pemerintahan.
Selama kurang lebih 9 abad kerajan Usamani berdiri, tetapi kemudian hancur juga disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
a.Budaya pungli
Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengansogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut, sehinggamenyebabkan dekadensi moral dan kondisi para pejabat semakin rapuh.
b.Pemberontakan tentara Jenissari
Kemajuan ekspansi kerajan Usmani adalah juga karena peranan yang besar dari tentara Jenissari. Maka dapat dibayangkan kalau tentara Jenissari itu sendiri akhirnya memberontak kepada pemerintah.
c.Kemorosotan ekonomi
Ini disebabkan perang yang berkepanjangan, menghabiskan uang dan perekonomian Negara merosot, sementara belanja Negara sangat besar, termasuk untuk biaya perang.
d.Wilayah kekuasaan yang sangat luas
Terlalu luasnya wilayah kekuasaan Usmani sangat sulit untuk dikontrol.Dipihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehinga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun Negara.
e.Kelemahan penguasa
Sepeninggal Sulaimanal al-Qanuni, kerajaan Usmani diperintah oleh Sultan–sultan yang lemah terutama dalam bidang kepemimpinan. Akhirnya pemerintahan menjadi kacau.

2.KerajaanSafawi
Didirikan oleh Syah Ismail pada 907 H/1500 M di Tabriz, Persia (Iran). Awalnya sebuah gerakan tarekat yang bernama Safawiyah yang menjadi gerakan politik, dipimpin oleh Syekh Safifuddin Ishaq. Gerakan ini memasuki wilayah politik dan pemerintahan karena merupakan tarekat militer yang para pengikutnya berkeinginan memainkan peran politik untuk memperkokoh kekuasaannya. Kegiatan politik dipertajam pada pemerintahan Ismail, sehingga Ismail dianggap sebagai pendiri Kerajaan Safawi.
Dibentuk semacam kesatuan tentara agama atau Qizilbasy (si kepala merah) pada pemerintahan Haidar. Ismal menerapkan Syiah Isra Asyariah sebagai agama negara. Sebelumnya Persia berada di bawah kekuaaan Suni, maka ia mendatangkan ulama Syiah dari Iraq, Bahrein, dan Libanon untuk tujuannya. Program ini mengalami pertentangan yang berat, karena tidak mudah mengubah ideologi rakyat dari Suni ke Syiah. Banyak pula sastrawan dan ulama Suni yang dibunuh demi penerapan Syiah ini. Syah Ismail terus melanjutkan penaklukan sampai ke seluruh Iran, Heart maupun Diyarbakr (Turki), dan Baghdad dengan dukungan pasukan Qizilbasy.
Pada masa pemerintahan Syah Abbas (1588-1629) Kerajaan Safawi mengalami puncak keemasaan. Tidak hanya meredam konflik internal dan merebut wilayah yang melepaskan diri, tetapi Syah Abbas juga mampu melebarkan wilayahnya ke Tabriz, Sirwan, dan kep.Harmuz, bahkan pelabuhan Bandar Abbas. Syah Abbas ingi nmelepaskan diri dari ketergantungan dukungan kekuatan militer Qizilbasy, maka ia membentuk kekuatan militer yang terdiri dari budak Kaukakus dan Georgia. Strategi ini berhasil mengusir kekuatan Uzbek di Khirazan pada tahun 1598 . Kemajuan-kemajuan itu antara lain:
a.Pemerintahan dan Politik
Terbagi secara horozontal, yaitu didasarkan pada garis kesukuan atau kedaerahan, dan pembagian secara vertikal, yaitu mencakup dua jenis, istana (dargah) dan sekretariat negara (divan atau mamalik). Penyelenggaraan negara dipercayakan kepada para amir (kepala suku) tingkat atas dan wazir (menteri) yang tergabung dalam suatu dewan (jangi). Terdapat lembaga yang tercakup dalam dewan tersebut (majelis nivis) yang terdiri dari sejarawan istana, sekretaris pribadi Syah, dan kepala intelejen.
b.Ekonomi
Ekonomi dikendalikan langsung oleh pusat. Banyak memperkuat di bidang pertanian dengan memperbanyak pengalihan tanah negara menjadi tanah raja. Pertumbuhan ekonominya semakin baik karena stabilitas keamanan yang dinamis dan situasi dalam negeri yang terkendali. Pelabuhan Bandar Abbas menjadi jalur perdagangan antara Timur dan Barat sehingga sektor perdagangan semakin maju. Di bidang pertanian mengalami kemajuan terutama di daerah Bulan Sabit yang subur.
c.Ilmu Pengetahuan
Didirikan lembaga pendidikan Syiah oleh Syah Abbas, yaitu sekolah teologi untuk lebih memantapkan akan aliran Syiah. Beberapa nama ilmuwan, sastrawan, dan sejarawan Safawi antara lain, Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’i, Muhammad Baqir Astarabadi, Sarudin Muhammad bin Ibrahim Syirazi, dan Muhammad Baqir Majlisi.
d.Bangunan dan Seni
Kantor, masjid, rumah sakit, dan jembatan raksasa dibangun dengan gaya arsitektur yang indah. Di bidang seni, terlihat dalam kegiatan dan hasil dari kerajinan tangan, keramik, karpet, dan seni lukis.
Sepeninggal Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642), Abbas II (1642-1667), Sulaiman (1667-1694), Husein (1694-1722), Tahmasp II (1722-1732), dan Abbas III (1733-1736). Pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Safawi semakin lama semakin menurun yang pada akhirnya membawa kepada kehancurannya.
Safi Mirza adalah seorang yang pencemburu dan kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Abbas II adalah raja yang suka mabuk minuman keras. Sulaiman selain pecandu narkotika juga menyenangi kehidupan malam beserta harem herem nya.Sedangkan Husein adalah seorang raja yang sangat diskriminatif, terlalu berpihak kepada kaum Syi’ah dan Kejam terhadap penganut Sunni.Itulah antara lain yang menjadi faktor keruntuhan Kerajaan safawi. Faktor lain adalah konplik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani, dekadensi moral dikalangan pembesar-pembesart kerajaan, dan juga konplik interen di kalangan mereka dalam rangka memperebutkan kekuasaan.

3.Kerajaan Mogul
Didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M) di India. Babur diwarisi daerah Ferghana dari ayahnya ketika berusia 11 tahun. Berdirinya Kerajaan Mogul di India menimbulkan serangan dari Kerajaan Hindu, serangan ini dapat dikalahkan oleh Babur. Babur memerintah selama 30 tahun, setelah wafat digantikan putranya, Humayun yang hanya memerintah selama 9 tahun karena kondisi dalam negeri tidak aman dengan munculnya pemberontakan. Humayun meninggal dan digantikan oleh anaknya yang berusia 14 tahun, Akbar. Urusan pemerintahan diserahkan kepada Bairam Khan.
Ketika Akbar dewasa, ia memperluas wilayah dengan menaklukan daerah Chundar, Ghond, Orisa, dan Asingah. Pemerintahan dijalankan secara militeristik, pemimpin daerah dipimpin ileh seorang komandan (sipah saleh) . Beberapa kemajuan pada masa Kerajan Mughal, yaitu :
a.Politik dan Ekonomi
Stabilitas politik yang aman dan pemerintahan yag stabil, membuat laju perekonomian dan pertanian pun maju. Pemerintah membangun komunikasi yang intens dengan komunitas petani melalui Mukadam (menteri pertanian). Hasil pertanianya yaitu: biji-bijian dan sayuran serta bahan kain yang diolah untuk pakaian.
b.Seni dan Budaya
Dalam bidang kesenian yang paling menonjol adalah sastra gubahan penyair Istana, yaitu Malik Muhammad Jayadi dengan karyanya yang berjudul“padmavat”. Abu Fadl (Seorang Sejarawan) dengan karya besarnya Akhbar Nama dan Aini Akhbari. Demikian juga di bidang bangunan infrastruktur kerajaan, muncul karya arsitektur seperti Istana Fatpur Sikri (Masa Akhbar), Taj Mahal yang megah nan indah di Agra (Masa Syah Jehan).
beberapa faktor kelemahannya yang menyebabkan kehancurannya pada tahun1858 antara lain:
a.Terjadi stagnasi dalam pembinaan kemiliteran sehingga tidak bisa memantaugerak langkah tentara Inggris di wilayah-wilayah pantai. Begitu pula kekuatanpasukan daratnya semakin kurang handal, teruatama dalam mengoperasikapersenjataan buatannya sendiri.
b.Dekadensi moral dan hidup mewah di kalangan pembesar kerajaan yangmengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang.
Terlampau kasarnya sikap Aurangzeb dalam melaksanakan ide-idenya yangmenyebabkan terjadinya konplik antara agama, misalnya aliran Syikh, Syi’ahdan sunni.
c.Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir kekuasaan Mughal adalahorang-orang yang lemah dalam bidang kepemimpinan.

D.MANFAAT SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM ABAD PERTENGAHAN
Beberapa manfaat dari sejarah perkembangan Islam abad pertengahan diantaranya.
1.Jiwa dan semangat persatuan serta kesatuan yang dibina oleh tiga kerajaa besar dapat membangun kerajaan pada zamannya.
2.Kerja keras dan pantang menyerah yang dilakukan oleh rakyat dan pemimpin pada masa pertengahan telah membuahkan hasil yang gemilang.
3.Kreativitas dan ketekunan yang dimiliki para ilmuwan pada masa pertengahan telah melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan perkembangan kebudayaan.

E.PENGARUH PERKEMBANGAN ISLAM ABAD PERTENGAHAN TERHADAP UMAT ISLAM DI INDONESIA
Pengaruh perkembangan Islam abad pertengahan terhadap umat Islam di Indonesia antara lain:
1.Muncul pemahaman dari metode berpikir tradisional menjadi rasional.
2.Berkembang pendekatan teologi Asy’ariyah.
3.Muncul madzab yang sangat besar yaitu Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.
4.Memberikan pengaruh positif yang memiliki peradaban bagi masyarakat di Indonesia.
5.Mengembangkan syiar Islam sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat dianut dan dilaksanakan masyarakat muslim di Indonesia.

BAB III
KESIMPULAN
1.Kesultanan Usmani
Didirikan oleh Usman, putra Artogol dari kabilah Oghuz di Mongol. Kemajuan yang dicapai antara lain:
a.Pemerintahan dan Militer
b.Pengetahuan dan Budaya
c.Agama
2.KerajaanSafawi
Didirikan oleh Syah Ismail pada 907 H/1500 M di Tabriz, Persia (Iran). Kemajuan-kemajuan itu antara lain:
1.Pemerintahan dan Politik
2.Ekonomi
3.Ilmu Pengetahuan
4.Bangunan dan Seni
3.Kerajaan Mogul
Didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M) di India.
Beberapa kemajuan pada masa Kerajan Mughal, yaitu :
a.Politik dan ekonomi
b.Seni dan Budaya
beberapa faktor kelemahannya yang menyebabkan kehancurannya pada tahun1858 antara lain:
a)Terjadi stagnasi dalam pembinaan kemiliteran sehingga tidak bisa memantaugerak langkah tentara Inggris di wilayah-wilayah pantai.
b)Dekadensi moral dan hidup mewah di kalangan pembesar kerajaan yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang.
c)Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir kekuasaan Mughal adalahorang-orang yang lemah dalam bidang kepemimpinan.

DAFTAR PUSTAKA
Mansur, Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah , yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2004.

SJ Fadil , Pasang Surut Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah , Malang: UIN-Malang Press, 2008.

Abu bakar Istianah , Sejarah Peradaban Islam, Malang: UIN-Malang Press, 2008.

http://www.blogtopsites.com/outpost/f63150ee064bdfbdc07a58a1b6a40a86

http://saef-jaza.blogspot.com/2008/05/sejarah-islam-abad-pertengahan.html

Yatim Badri , Sejarah Peradaban Islam , Jakarta: Grafindo Persada, 2000.

Abu bakar Istianah , Sejarah Peradaban Islam,Malang: UIN-Malang Press, 2008.

http://zidniagus.wordpress.com/2010/06/06/perkembangan-islam-pada-abad-pertengahan/

Amstrong Karen, Islam a Short History , Ikon, 2000.

http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pertengahan

http://saef-jaza.blogspot.com/2008/05/sejarah-islam-abad-pertengahan.html

http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/masa-scholastik-keemasan.html

http://saef-jaza.blogspot.com/2008/05/sejarah-islam-abad-pertengahan.html

DAULAH BANI ABBASIYAH

A. PANDAHULUAN

1. Latar belakang
Sejarah mencatat, bahwa sepeninggalnya Nabi Muhammad SAW, beliau digantikan oleh para sahabat yang dikenal dengan para khulafa’ar-Rasyidin, yang berarti para kholifahang mendapatkan petunjuk dari Allah swt. Dan setelah berakhirnya masa khulafa ar-rasyidin pemerintah islam diteruskan dengan munculnya daulah-daulah islam.
Kekuasaan Daulah Abbasiyah salah satunya, sebagaimana disebutkan bahwa daulah ini merupakan kelanjutan dari Daulah Umayah, yang mana daulah ini dalam pemerinyahannya ikut serta dalam pengembangan dan prluasan daerah islam, melanjutkan apa yang dahulu sudah dilakukan oleh para khulafa’ ar-Rasyidin.
Setelah Daulah Bani Umayah berakhir, kekuasaan islam dilanjutkan Daulah Bani Abbasiyah. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa puncaknya keemasan pemerintahan islam, para kholifah dimasa ini benar-benar tokoh yang kuat dam merupakan pusat politik dan agama sekaligus.

B. PEMBAHASAN

1. Sejarah Berdirinya Daulah Abbasiyah
Kekuasaan Daulah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan
kekuasaan Daulah Umayah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Daulah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Abdullah Ibn al-Abbas. Kekuasaan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 750-1258 M.
Pada awalnya Muhammad bin Ali,cicit dari Abbas, menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Hasyim di Parsi, pada masa pemerintahan kholifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa kholifah pemerintahan kholifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750 M, Abu al-Abbas as Shaffah berhasil meruntuhkan Bani Umayah dan kemudian dilantik sebagai kholifah.
Daulah Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekholifahan selama lebih dari 5 abad, memantabkan kembali kepimpinan yang islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya timur tengah. Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan islam, atau sering disebut dengan istilah “The Golden Age”. Pada masa itu umat islam telah mencapai puncak keilmuan, baik dalam bidang politik, ekonomi, peradaban dan kekuasaan serta berkembang bebagai cabang ilmu pengetahuan .
2. Silsilah Bani Abbasiyah
Berikut ini silsilah Bani Abbasiyah yang berkuasa pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah di Bagdad, yaitu:
1. Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M)
2. Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M)
3. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M)
4. Khalifah Al-Hadi (785-786 M)
5. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M)
6. Khalifah Al-Amin (809-813 M)
7. Khalifah Al-Makmun (813-833 M)
8. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M)
9. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M)
10. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M)
11. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M)
12. Khalifah Al-Mustain (862-866 M)
13. Khalifah Al-Muktazz (866-869 M)
14. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M)
15. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M)
16. Khalifah Al-Muktadid (892-902 M)
17. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M)
18. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M)
19. Khalifah Al-Kahir (932-934 M)
20. Khalifah Ar-Radi (934-940 M)
21. Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M)
22. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M)
23. Khalifah Al-Mufi (946-974 M)
24. Khalifah At-Tai (974-991 M)
25. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M)
26. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M)
27. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M)
28. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M)
29. Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M)
30. Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M)
31. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M)
32. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M)
33. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M)
34. Khalifah An-Nasir (1180-1224 M)
35. Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M)
36. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M)
37. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M)

Diantara khlifah-kholifah tersebut yang terkenal karena kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahanyan dalam berbagai bidang adalah sebagai berikut:
a. Abu Ja’far al-Mansur (136-158H/754-775M)
Beliau adalah putra Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutholib. Ia saudara Ibrohim al-Imam dan Abul Abbas as-saffah.
b. Harun Alrosyid (170-193H/786-809M)
Beliau dilahirkan pada bulan februari 763M, ia menjadi kholifah bulan September 786M pada usia 23 tahun.
c. Abdullah al-Ma’mun
Beliau dilahirkan pada tanggal 15 Robiulawal 786M, ia menjadi kholifah tahun 198M .

3. Periodesasi Pemerintahan Daulah Abbasiyah.
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan yang diterpkan berbeda-beda, dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan bani Abbasiyah menjadi lima periode :
a. Periode pertama (132 H / 750M - 232H / 847M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
b. Periode kedua (232H / 847M – 334H / 945M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
c. Periode ketiga (334H / 945M – 447H / 1055M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan kholifah Abbasiyah. Periode ini disebut dengan masa pengaruh persia ke dua.
d. Periode keempat (447H / 1055M – 590H / 1194M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiah disebut dengan masa pengaruh Turki kedua.
e. Periode kelima (590H / 1194M – 656H / 1258M), masa kholifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaanya efektif disekitar kota Bagdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol .
Pada periode pertama pemerintah Daulah Abbasiyah mencapai masa keemasanya, secara politis, para kholifah benar-benar tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan bani Abbas mulai menurun dalam bidang politi, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri Daulah ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja’far al-Manshur (754-775M), yang keras menghadapi lawan-laawannya terutama bani Umayah, Khawarij dan Syi’ah .
Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat kuffah, namun untuk lebih memantabkan dan stabilitas negar yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru di bangunnya, Baghdad, dekat ibu kota persia (Teshipon, tahun 762M.). Dengan demikian, pusat pemerintahan daulah Abbasiyah berada di tengah-tengah bangsa persia. Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam dari pada perluasan wilayah. Inilah perbadaan pokok antara bani Abbasiyah dengan bani Umayah. Selain itu ada pula ciri-ciri yang menonjol Daulah Abbasiyah yang tidak dimiliki daulah Umayah yaitu:
1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan bani Abbasiyah menjadi jauh dari pengaruh Arab islam. Sedangkan Bani Umayah sangat beorientasi kepada Arab islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat dan peda periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan politik dan pemerintahan dinasti ini.
2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan Wasir, yang membawahi kepala-kepala Departemen.
3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa Bani Abbas .

4. Kemajuan Pada Masa Daulah Abbasiyah

a. Kemajuan Dalam Bidang Ilmu Pengetahuan
Perkembangan Daulah Abbasiyah dalam bidang pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkatyaitu:
1. Maktab/Kuttab dan masjid yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitunagn dan tulisan dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama seprti Tafsir, Fiqih dan Bahasa.
2. Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi ke daerah menuntut ilmu kepada seseorang/beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing.


Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilnu agama. Pengajarana berlangsung dimasjid-masjid, atau rumah-rumah ulamam’ bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau rumah penguasa tersebut .
Pada masa ini umat islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan baik Aqli (rasional) ataupun naqliu mengalami kemajuan dengan pesatnya.
Diantara ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada masa itu, ialah:
1. Ilmu Tafsir
Perkembangan ilmu tafsir pada pemerintahan Daulah Abbasiyah mengalami kemajuan dengan pesat. Pada zaman ini terdiri dari tafsir bil Ma’tsur dan tafsir bil Ra’i, sehingga melahirkan ahli-ahli tafsir pada masa itu diantaranya: Ibnu Jarir al-Thabary, Ibnu Mas’ud, Abu bakar Asam,dll.

2. Ilmu Hadist
Hadist merupakan sumber hukum kedua stelah Al-Qur’an. Pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah muncullah ahli-ahli hadist yang ternama, diantaranya: Bukhori, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud.

3. Ilmu kalam
Ilmu kalam lahir karena dua sebab yaitu:
a. Karena musuh islam ingin melumpuhkan islam dengan mempergunakan filsafat pula.
b. Hampir semua masalah, termasuk masalah agama, telah berkisar pada pola ras kepada pola akal dan ilmu.Diantara pelopor dan ahli ilmu kalam ialah Washil bin Atha’ Abu Huzail Al All’af, Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Ghozali.

4. Ilmu Tasawuf
Ilmu tasawuf yaitu ilmu syari’at. Inti ajarannya adalah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Diantara ahli tasawuf ialah Al-Qushary, Imam Ghozali.

5. Ilmu Bahasa
Ilmu bahasa yang berkembang pada masa itu ialah Nahwu, Shorof, Baan, Badi’, dan lain-lain. Diantara ahli ilmu bahasa ialah Sibawaif, Al Kisai, Abu Zakaria.

6. Ilmu fikih
Ilmu fikih juga tidak kalah berkembang pada masa itu, diantara para fuqoha yang terkenal antara lain: Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hambal .

Disamping ilmu-ilmu Naqli yang mengalami kemanjuan pesat pada masa kejayaan Islam di dalam kekuasaan Daulah Abasiyah, ikut berkembang pula ilmu-ilmu Aqli (rasional). Diantaranya: ilmu kedokteran, ilmu perbintangan, ilmu pasti atau (Riyadhiyai), Farmasi dan kimia, filsafat, sejarah, geografi, dan sastra .
Berkembang Daulah Abbasiyah dalam bidang ilmu pengetahuan ini karena dipengaruhi dua hal yaitu :
1. Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
2. Gerakan terjemahan yang berlangsung selama tiga fase. Fase pertama dimulai dari kholifah Al-Mansur hingga Harun Al-Rasyid, Fase kedua dari masa kholifah al-Makmun hingga tahun 300H, Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300H .

b. Kemajuan Dalam Bidang Politik
Seperti diketahui bahwa lahirna Daulah Abbasiyah pada proses awalnya diwarnai dengan pergulatan politik, pergumulan sosial dan pergulatan ideologi agama. Untuk mempertahankan diri dari berbagai kemungkinan adanya gangguan atau timbul pemberontakan, maka para kholifah Daulah Abbasiyah mengambil tiga kebijakan politik, yaitu:
1. Kebijaksanaan Politik Terhadap Bani Umayah
Untuk menjaga supaya tidak terjadi gerakan pemberontakan dari keluarga Bani Umayah maka para kholifah Abbasiyah mengambil suatu tindakan terhadap para pendukung dan keluarga Bani Umayah yang tersisa.

2. Kebijaksanaan Terhadap Orang-Orang Persia
Sebagaimana diketahui bahwa lahir dan berkembangnya Daulah Abbasiyah banak dipelopori oleh kelompok “Mawaly” terutama orang-orang persia. Oleh karena itu Daulah Abbasiyah, memberi kebijaksanaan terhadap bangsa Persia.

3. Kebijaksanaan Politik Pemerintahan
Perkembangan politik pemerintah pada masa kekuasaan Daulah Abbasiah, adalah kemajuan yang dicapai melalui pembentukan berbagai lembaga pemerintahan yang baru antara lain :
a. Pengangkatan Wasir (menteri) sebagai pembantu kholifah.
b. Pembentukan Diwanul Kitabah (semacam sekretariat negara).
c. Pembentukan Departemant pambantu Wasir.
d. Pengangkatan Amir dan Syekhul Qura.
e. Pembentukan Angkatan bersenjata.
f. Pembentukan Baitul Mal atau kas negara.
g. Pembentukan Mahkamah Agung .

c. Kemajuan Dalam Bidang Soaial Ekonomi
Kehidupan pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari zaman sebelumnya. Menurut Zaidan, bahwa masyarakat yang ada pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah terbagi menjadi dua kelas yaitu : kelas khusus dan kelas umum.
Sedangkan kemajuan dalam bidang ekonomi ini bisa dilihat dari berkembangnya keuangan kas negara yang banyak. Pada masa pemerintah Daulah Abbasiyah, sistem perekonomian dibangun dengan menggunakan sistem ekonomi pertanian, peindustrian dan perdagangan .
5.Kemunduran Pemerintah Daulah Abbasiah

a.Pengaruh Mamluk
Kekholifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentara. Tentara budak yang disebut Mamluk, tentara-tentara ini dibentuk didominasi oleh bangsa Turki. Bagaimanapun tentara mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekholifahan Abbasiyah, kemudian tentara mamluk ini berkuasa.

b.Pengaruh Bani Buwaih
Kehadiran Bani Buwaih berawal dari tiga orang putra Abu syuja’ buwaih, yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rizki. Bani buwaih yang bermarkas di syiraz berhasil menakhlukkan beberapa dearah di persia. Setelah itu Bani Buwaih memindahkan markas kekuasaanya ke Bagdad kekuatan politik Bani Buwaih tidak bertahan lama dan diambil alih Bani Saljuk.

c.Pengaruh Bani Saljuk
Setelah jatuhnya Bani Buwaih ketangan Bani Saljuk,Bani Saljuk mempunai wilayah yang luas membentang dari Kasghor, sebuah daerah di ujung Turki sampai ke Yerussalem. Oleh karena itu Dinasti Saljuk juga membawahi Daulah Abbasiyah .
Berakhirnya kekuasaan Dinasti Saljuk atas Bagdad merupakan awal dari periode ke lima. Daulah Abbassiyah sudah merdeka kembali, tetapi hanya Bagdad dan sekitarnya. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa mundurnya Bani Abbas dimulai abad ke dua .
Diantara faktor-faktor yang menebabkan kemunduranya adalah

1.Luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah, sementara komunikasi sulit dilakukan.
2.Dengan profesionalisasi anglatan bersenjata, ketergantungan kholifah sangat tinggi.
3.Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk biaya bayaran besar .

KESIMPULAN
1.Pendiri Daulah Abbasiyah adalah Abdullah as-Shaffah ibn Muhammad ibn Ali Abdullah Ibn al-Abbas. Kekuasaana berlangsung dari tahun 750M sanpai 1258M.
2.Pada masa periode pertama Daulah Abbasiyah merupakan puncak keemasaan agama islam, karena pada masa ini banyak perkembangan-perkembangan yang dihasilkan dalam berbagai bidang diantaranya bidang ilmu pengetahuan, bidang politik, ekonomi dan sosial.
3.Pada masa periode pertama muncullah berbagai macam ilmu baik ang bersifat Naqli maupun Aqli sehingga melahirkan para ulama’-ulama’ keilmuan yang terkenal.
4.Kemunduran Daulah Abbasiah sudah dimulai dari periode kedua karena adanya pengaruh-pengaruh dari Bani Mamluki, Bani Bawaih dan Bani Saljuk.
5.Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Daulah Abbasiyah adalah :
•Luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah, sementara komunikasi sulit dilakukan.
•Dengan profesionalisasi anglatan bersenjata, ketergantungan kholifah sangat tinggi.
•Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk biaya bayaran besar.
DAFTAR PUSTAKA
Djuhan M Widda, Sejarah Peradaban Islam, Ponorogo=LPP / STAIN. 2009.
Naufal Rezaq, Umat Islam dan Sain Modern, Bandung : Husain, 1987.
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang : Toha Putra, 2003.
Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Pt.Raja Grafindo Persoda, 1993.
Ibrahim Hasan, sejarah dan kebudayaan islam, Yogyakarta : Kota Kembang, 1989.
http://diaz2000.multiply.com/journal/sejarahislam(01/12/2010)
http://id.wikipedia.org/wiki/baniAbbasiyah(01/12/2010).
http://tristono.wordpress.com/daulahbaniabbasiyah(01/12/2010).
http://mobilterbaru.com/info/sejarahperadabanmasaabbasiyah(01/12/2010)
http://scribd.com/doc/sejarahDaulahAbbasiyah.(01/12/2010)

MASA PEMERINTAHAN ABU BAKAR AS-SYIDIQ DAN UMAR BIN KHOTOB

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sejarah mencatat, bahwa sepeninggalnya nabi Muhammad SAW beliau digantikan oleh keempat sahabat terdekat, yakni: abu bakar, umar bin khotob, usman bin affan, dan ali bin abi tolib. Mereka dikeal dengan khulafaurrosidin yang berarti para kholifah yang mendapatkan petujuk dari Allah. Sebagaimana diketahui bahwa nabi muhammad SAW, mempunyai peran ganda, disamping menjadi nabi dan rasul beliau juga sebagai kepala negara pada saat itu. Setelah beliau wafat maka peran beliau sebagai nabi dan rasul tidak digantikan untuk selama-lamanya sebab seuai dengan keimanan islam beliau adalah rasul yang terakhir dan gelar kerasulan ini merupakan otoritas tuhan.
Namun sebagai kepala negara dimana didalamnya melakat baik tugas keagamaan maupun politik, perlu digantikan oleh seorang pengganti yang dalam bahasa arab disebut kholifah. dengan adanya pernyataan tersebut kami akan membahas tentang perkembangan sistem kemasyarakatan pada waktu khulafaurasidin dengan tujuan mengetahui bagaimana bentuk kekholifahan pada masa abu bakar dan umar bin khotob.

B.Rumusan Masalah
Adapun untuk membatasi pembahasan, kami menetapkan rumusan masalah sebagai berikut:
1.Bagaimanakah proses pengangkatan kholifah abu bakar dan umar bin kotob?
2.Bagaimanakah gaya kepemimpinan pada masa abu bakar dan umar?
3.Apa sajakah prestasi yang dicapai oleh kholifah abu bakar dan umar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Proses pengangkatan kholifah abu bakar dan umar bin khotob.
1.Abu bakar
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, pemuka-pemuka Islam mengalami kebingungan karena mereka sama sekali belum siap kehilangan pemimpin, sahabat dan pembimbing yang nereka cintai, sehingga kaum ansor segera bermusyawarah untuk mencari pengganti Rasulullah SAW yaitu di syaqifah bani sya’idah sebuah tempat pertemuan dan musyawarah penduduk madinah yang dipimpin oleh sa’at bin ubadah, setelah mengetahui pertemuan itu beberapa tokoh muhajirin yaitu abu bakar, umar bin khotob dan abu ubaidah bin jarrah segara menuju ke syaqifah bani syaidah. Ketika para tokoh muhajirin sanpai disana kaum ansor disyaqifah hampir berepakat untuk membai’at saatbin ubadah menjadi khoifah. Mereka bahkan meminta para tokoh muhajirin untuk segara membaiat saat bin ubadah namun abu bakar menolaknya dengan tegas.
Abu bakar mengatakan kepada kaum ansor bahwa jabatan kholifah semestinya diberikan kepada kaum muhajirin sebab mereka yang dulu masuk islam. Kaum muhajirin juga yang selama 13 tahun membantu nabi muhammad mempertahankan islam dari gangguan kafir quroisy di mekah. Tentu saja kaum ansor tidak bisa membantah penyataan abu bakar mereka ingat sebelum para nabi dan para sahabatnya dari mekah mengajak mereka masuk islam mereka terlibat perang saudara yang berlarut-larut.
Lagi pula para sahabat nabi terbaik dan yang pantas menggantikan kedudukan nabi memimpin kaum muslim memang berasal dari kaum muhajirin. Setelah terjadi perdebatan sengit antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin, akhirnya terpilihlah sahabat Abu Bakar sebagai Khalifah, artinya pengganti Rasul SAW yang kemudian disingkat menjadi Khalifah atau Amirul Mu’minin.
2.Umar bin khotob
Umar bin Khtttab adalah salah seorang sahabat nabi dan khalifah kedua setelah wafatnya Abu Bakar As-Sidiq. Jasa dan pengaruhnya terhadap penyebaran Islam sangat besar hingga Michael H. Heart menempatkannya sebagai orang paling berpengaruh sedunia sepanjang masa.
Beliau lahir di Mekah dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy dengan nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza. Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat kepalanya. Kemudian setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, atas wasiat Abu Bakar Umar ditunjuk menggantikannya namun demikian sebelum menentukan orang yang akan menggantinya abu bakar minta penilaian para sahabat besar mengenai umar, ia bertanya kepada abdurrahman bin ‘auf, usman bin affan, sa’id bin zaid dan para sahabat lain dari golongan mihajirin dan ansyor, sehingga disetujui oleh seluruh perwakilan muslim saat itu, bahwa umar terpilih menjadi kholifah pengganti abu bakar.
B.Gaya kepemimpinan pada masa abu bakar dan umar bin khotob
1.Abu bakar
Abu bakar adalah seorang dermawan yang lemah lembut namun demikian sebagai seorang pemimpin disaat tertentu dia bisa bersikap tegas. Pada saat demikian , dia tidak pernah ragu untuk bersikap tegas misalnya dia bersikeras untuk meneruskan mengirimkan usamah bin haritsah ntuk menyerang syam, padahal saat itu kondisi umat islam belum pulih yang disebapkan karena kematian rasullalah sangat mengguncang umat islam.
Beberapa sahabat bahkan sempat tidak menyetujuipengiriman usamah tersebut, tetapi abu bakar berskeras untuk mengirimkannya hal itu dilakukan demi untuk meneruskan usaha yang teah dirintis oleh rasulallah, abu bakar juga bersitegas ketika ketegasan diperlukan demi mempertahankan islam. Misalnya dia bersikeras untuk memerangi para nabi-nabi palsu, kaum murtad, dan kaum yang enggan membayar zakat.
2.Umar bin khotob
Dalam keseharian sifat umar berbeda dengan abu bakar, bahkan bisa berkebalikan. Bila Abu Bakar pada dasarnya seorang yang lemah lembut, umar adalah seorang yang keras dan tegas. Karena ketegasan dan kekerasannya membedakan yang benar dan yang salah umar mendapatkan julukan al-faruq yang artinya pembeda antara yang benar dan yang salah. Bahkan dia pernah menghukum anaknya sendiri karena meminum khomr. Pada kholifah umar ketegasan pelaksanaan hukum harus dikenakan terhadap siapapun tanpa pandang bulu.
Namun demikian sama seperti abu bakar kholifah umar juga seorang pemimpin yang sederhana dia tidak mau bermawah-mewahan sebagai penguasa ia tetap hidup sebagaimana saat para pemeluk Islam masih miskin dan dianiaya sebenarnya dia bisa harta kekayaan yang diperoleh kaum muslimin dari penaklukan persia, syam, dan mesir digunakan untuk kesejahtaraan umat islam. Selama masa jabatannya, khalifah Umar amat disegani dan ditakuti negara-negara lain. Kekuatan Islam maju pesat, mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun keempat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.
Umar syahid setelah ditikam oleh Abu Lukluk, seorang budak asal Persia yang dendam atas kekalahan Persia terhadap Islam pada suatu subuh saat Umar sedang mengerjakan shalat. Umar meninggal pada 25 Dzulhijjah 23 H dan selanjutnya digantikan oleh Utsman bin Affan.
C.Prestasi yang dicapai oleh kholifah abu bakar dan umar bin khotob
1.Abu bakar
Abu Bakar bukan hanya dikatakan sebagai Khalifah, namun juga sebagai penyelamat Islam dari kehancuran karena beliau telah berhasil mengembalikan ummat Islam yang telah bercerai berai setelah wafatnya Rasulullah SAW. Disamping itu beliau juga memiliki banyak prestasi dalam kekholifahannya diantaranya:
a.Pemberangkatan pasukan usamah bin zaid sesuai dengan pesan rasulallah. Banyak sahabat yang mengusulkan agar abu bakar membatalkan pemberangkatan pasukan usamah ini. Karena, terjadi tindakan murtad dari penduduk arab dan kemungkiinan adanya bahaya yang mengancam madinah. Namun, abu bakar tetap mengimplementasikan sesuai dengan perintah rasulallah. Hal ini dilakukan abu bakar sebagai usaha untuk menampakkan pada semua pihak bahwa kekuatan islam masih tetap kokoh dan sulit dikalahkan baik secara meterial maupun spiritual. Ternyata pasukan ini memetik kemenangan yang sangat gemilang, sehingga kemenangan ini telah membuat banyak orang kokoh berpeganh pada agama islam.
b.Perang melawan orang-orang murtad.
Setelah rasulallah wafat seluruh jazirah arab murtad dari agama islam keculi mekkah, madinah, thoif. Sebagian orang murtad ini kembali kepada kekufuran lamanya dan mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan sebagian yang lain tidak mau membayar zakat. Para sahabat menasehati abu bakar agar dia tidak memerangi mereka karena kondisi umat islam yang sangat sulit dan karena sebagian pasukan islam sedang diberangkatkan untuk berperang melawan tentara romawi yang dipimpin oleh usamah bi zaid. Namun, abu bakar menolak usulanmereka dia mengatakan sebuah perkataan yang sangat masyu, “ demi Allah, andaikan mereka tidak mau menyerahkan tali unta yang pernah mereka serahkan kepada rasulallah, pasti aku akan berjihat melawan mereka”.
c.Perang yamamah (11H/ 632M)
Abu bakar mengirimkan pasukan dibawah pimpinan hudzaifah bin muhsin, arjafah bin hutsamah dan ikrimah kepada penduduk amman, diba dan mahrah. Akhirnya penduduk ditempat itu pun tunduk berada dibawah naungan islam.
d.Penaklukan islam
Perang melawan orang-orang murtad berakhir. Namun, tidak ada pilihan lain kecuali melanjutkan jihad sedangkan musuh islam pada saat itu adalah persian dan romawi. Kondisi inilah yang memudahkan jihad kaum muslimin mereka menyerbu keduan kekaisaran secara bersamaan.
e.Penghimpunan Al Qur’an
Suatu kerja besar yang dilakukan pada masa pemerintahan abu bakar adalah penghimpunan Al Qur’an. Abu Bakar as sidiq memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al Qur’an dari pelapah kurma, kulit binatang dan dari hafalan kaum muslim. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian Al Qur’an setelah sahitNya beberapa orang penghafal Al Qur’an pada perang yamamah.
2.Umar bin khotob
Khalifah umar mati syahid akibat sebuah konspirasi yang dirancang oleh musuh-musuh islam dari kalangan yahudi dan persia yang sangat membencinya karena umarlah yang menyebabkan lenyapnya kekuasaan dan pemerintahan mereka. Pada masa kepemimpinannya umar mempunyai beberapa prestasi antara lain:
a.khalifah umar adalah orang pertama yang menggelari dirinya sebagai amirul mu’minin.
b.Kholifah Umar adalah orang pertama yang membentuk kantor(kementerian). Seperti, kantor tentara, kantor distribusi, pengiriman surat melalui kurir dan membuat mata uang.
c.Kholifah umar adalah orang pertama yang membuat penanggalan islam dengan menjadikan awal hijrah rasulallah sebagai awalnya.
d. Kholifah umar juga melakukan perluasan masjidil haram.
KESIMPULAN
Proses pengangkatan kholifah abu bakar dengan cara demokratis yang diwakii oeh kaum muhajirin dan anshor.
Proses pengangkatan kholifah umar bin khotob atas dasar musyawarah pemimpin terpilih yaitu abu bakar dan para sahabatnya.
Gaya kepemimpinan Abu bakar lemah lembut namun demikian sebagai seorang pemimpin disaat tertentu dia bisa bersikap tegas.
Dalam keseharian sifat umar berbeda dengan abu bakar, bahkan bisa berkebalikan. Bila abu bakar pada dasarnya seorang yang lemah lembut, umar adalah seorang yang keras dan tegas.
Prestasi yang dicapai abu bakar antara lain:memberangkatkan pasukan usamah sesuai dengan pesan rasul,perang melawan orang-orang murtad,perang yamamah(memerangi orang yang mengaku sebagai nabi)
Prestasi yang dicapai Umar antara lain:khalifah umar adalah orang pertama yang menggelari dirinya sebagai amirul mu’minin,Kholifah Umar adalah orang pertama yang membentuk kantor(kementerian). Seperti, kantor tentara, kantor distribusi, pengiriman surat melalui kurir dan membuat mata uang,Kholifah umar adalah orang pertama yang membuat penanggalan islam dengan menjadikan awal hijrah rasulallah sebagai awalnya,Kholifah umar juga melakukan perluasan masjidil haram.
DAFTAR PUSTAKA
Al usairy, Ahmad, sejarah islam, (jakarta: akbar media eka sarana, 2003)
Badri, Yatim, sejarah peradaban islam, (jakarta:raja grafindo, 2006)
Juhan, Widda, sejarah peradapan islam, (ponorogo: stain press, 2010)
Rafiq , Choirul, sejarah peradapan islam (malang: umm press, 2004)
Sukarta, Abdullah,sejarah peradapan islam (jakarata: depag, 2000)
http://www.scribd.com/doc/30390221/Islam-Masa-Khalifah-Abu-Bakar
http: www.ust sarwat. com
http:// www.cybermq.com/pustaka/detail/150/kholifah-bani-umaiyah.masa kemajuan- islam
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-abu bakar.html
http:// tyapoenya.blogspot.com//2010/10/islam-masa- daulah –bani-umayyah.html

  PERIODE NABI MUHAMMAD DI MEKKAH

A. PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang besar, dan dibesarkan oleh orang nomor satu dunia yaitu Nabi Besar Muhammad SAW. Beliau telah mendedikasikan seluruh hidupnya demi kejayaan dan penyebaran agama Islam. Beliau adalah sosok mulia yang menghabiskan hari-harinya dengan berdakwah menyampaikan risalah Tuhan. Beliau tidak pernah lelah dan menyerah menghadapi hinaan, caci maki serta perlawanan dari musuh-musuh Islam. Beliau adalah pribadi sempurna yang telah memberikan cahaya kepada seluruh umat manusia. Beliau adalah panutan sepanjang zaman, dan ajaran serta pengabdian beliau selalu menjadi prioritas utama bagi umat Islam yang benar-benar talah mengislamkan dirinya, hatinya dan jiwanya. Sosok agung beliau yang telah meninggalkan kita sekian abad yang lalu, menambah cinta dan rindu kita kepadanya. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepadanya, pada keluarga dan sahabat-sahabat beliau yang selalu setia dalam perjuangan menegakkan Agama Islam, dan untuk seluruh pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
Rasulullah telah mengajarkan kepada seluruh umat Islam tentang betapa beratnya menegakkan kalimah tauhid, dan Rasulullah selalu optimis terhadap janji Allah bahwa agama yang benar adalah Islam, dan kebenaran itu yang membuat Rasulullah memiki kekuatan yang luar biasa. Keyakinan akan Kebenaran Hakiki yang membuat beliau mampu merobohkan tembok-tembok kemusyrikan, dan keyakinan itulah yang membawa Islam kepada kejayaan.

B. PEMBAHASAN
1. Awal Kerasulan Nabi Muhammad SAW
Kehidupan masyarakat arab secara sosio politis mecerminkan kehidupan derajat yang rendah. Perbudakan, mabuk, perzinaan dan perang suku mejadi karakter perilaku mereka. Dari aspek keagamaan, orang-orang arab Mekkah adalah para penyembah berhala. Berangkat dari kondisi inilah dalam sejarah dicatat bahwa Nabi Muhammad sering melakukan kontemplasi atau ‘uzlah untuk mendapatkan jawaban apa dan bagaimana harusnya membangun kehidpan masyarakat arab.
Setelah melalui perenungan yang lama dan telah terjadi jurang pemisah antara pemikiran Rasulullah SAW dan kaumnya, beliau nampak lebih menggandrungi untuk mengasingkan diri. Hal ini terjadi tatkala beliau menginjak usia 40 tahun beliau membawa roti dari gandum dan bekal air ke gua Hira’ yang terletak di jabal Nur , yaitu sejauh hampir 2 mil dari Mekkah.
Di dalam gua tersebut, beliau berpuasa Ramadhan, memberi makan orang-orang miskin yang mengunjunginya. Beliau menghabiskan waktunya dalam beribadah dan berfikir mengenai pemandangan alam di sekitarnya dan adanya kekuasaan dalam menciptakan dibalik itu. Kaumnya yang masih menganut ‘aqidah yang amburadul dan cara pandang yang rapuh membuatnya tidak tenang akan tetapi beliau tidak memiliki jalan yang jelas, manhaj yang terprogram serta cara yang terarah yang membuatnya tenang dan setuju dengannya.
Pilihan mengasingkan diri (‘uzlah) yang diambil oleh beliau Rasul SAW ini merupakan bagian dari aturan Allah terhadapnya. Juga, agar terputus hubungannya dengan kesibukan-kesibukan di muka bumi, gemerlap hidup dan nestapa-nestapa kecil yang mengusik kehidupan manusia menjadi noktah perubahan dalam mempersiapkan diri menghadapi urusan besar yang sudah menantinya sehingga siap mengemban amanah kubro, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah. ‘Uzlah yang sudah di atur oleh Allah ini terjadi tiga tahun sebelum beliau ditaklif dengan risalah. Beliau mengambil jalan ‘uzlah ini selama sebulan dengan semangat wujud yang bebas dan mentadabburi kehidupan ghaib yang tersembunyi dibalik wujud tersebut hingga tiba waktunya untuk berinteraksi dengan kehidupan ghaib ini saat Allah memperkenankannya. Pada suatu malam sekitar tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611, ketika Nabi Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira', Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Sejumlah wahyu datang kepadanya seperti cahaya terbit fajar. Firman pertama yang diwahyukan kepadanya lima ayat pertama dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 :
Artinya :
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu ia berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tersebut, dengan rasa ketakutan dan cemas Nabi Muhammad pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah untuk menyelimutinya, karena ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin secara bergantian. Setelah hal itu lewat, ia menceritakan pengalamannya kepada sang istri.
Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Nabi SAW mendatangi saudara sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami Nabi SAW, Waraqah pun berkata, bahwa ia telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah menyebutkan bahwa An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu, mereka akan memusuhi dan melawannya.
2. Sistem Dakwah Nabi di Mekkah
Kemudian wahyu terputus selama 40 hari. Maka, rasulloh sedih atas kejadian ini. Maka, Jibril datang kembali kepadanya dan duduk diatas kursi diantara langit dan bumi dalam rupanya yang asli. Kemudian beliau kembali datang menemui Khotijah dengan berkata,” selimutilah aku..., selimutilah aku...” Maka, Alloh menurunkan wahyu-Nya.
1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah, 5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan (risalah) beliau alias datang setelah masa kenabian (nubuwwah) yang berjarak selama masa turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif (pembebanan syara’) beserta penjelasan konsekuensinya.
Jenis pertama adalah mentaklif beliau dengan penyampaian (al-Balagh) dan peringatan (at-Tahzir) saja. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2); makna ayat ini adalah agar beliau memperingatkan manusia akan azab Allah atas mereka jika mereka tidak bertaubat dari dosa, kesesatan, beribadah kepada selain Allah Yang Maha Tinggi serta berbuat syirik kepadaNya dalam zat, sifat-sifat, hak-hak dan perbuatan-perbuatan.
Jenis kedua adalah mentaklif beliau dengan penerapan perintah-perintah Allah terhadap zat-Nya dan komitmen terhadapnya dalam jiwa beliau agar mendapatkan keridhaan Allah dan menjadi suri teladan yang baik bagi orang yang beriman kepada Allah. Hal ini tercermin pada ayat-ayat berikutnya. FirmanNya Ta’ala: “dan Rabb-mu agungkanlah!”(al-Muddatstsir: 3); maknanya adalah khususkanlah Dia Ta’ala dengan pengagungan dan janganlah menyekutukanNya dengan seseorangpun.
Dan firmanNya: “dan pakaianmu bersihkanlah!” (al-Muddatstsir:4); makna lahiriyahnya adalah menyucikan/membersihkan pakaian dan jasad sebab tidaklah layak bagi orang yang mengagungkan Allah dan menghadapNya dalam kondisi dilumuri oleh najis dan kotor. Jika saja kesucian/kebersihan ini dituntut untuk dilakukan maka kesucian/kebersihan diri dari virus-virus syirik, pekerjaan dan akhlak yang hina tentunya lebih utama untuk dituntut.
Dan firmanNya: “dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah!” (al-Muddatstsir:5) ; maknanya adalah jauhkanlah dari sebab-sebab turunnya kemurkaan Allah dan azab-Nya, dan hal ini direalisasikan melalui komitmen untuk ta’at kepadaNya dan meninggalkan maksiat.
Sedangkan firman-Nya: “dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!” (al-Muddatstsir: 6); yakni janganlah kamu berbuat baik dengan menginginkan upah dari manusia atasnya atau balasan yang lebih utama di dunia ini.
Adapun makna ayat terakhir (yang diturunkan saat itu kepada beliau-red); didalamnya terdapat peringatan akan adanya gangguan dari kaumnya ketika beliau berbeda agama dengan mereka, mengajak mereka kepada Allah semata dan memperingatkan mereka akan azab dan siksaanNya; yaitu dalam firmanNya: “dan untuk memenuhi (perintah Rabb-mu) bersabarlah!” (al-Muddatstsir: 7).
Permulaan ayat-ayat tersebut (surat al-Muddatstsir) berbicara tentang panggilan langit nan agung –terekam dalam suara Yang Maha Besar dan Maha Tinggi– yang mengajurkan agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan urusan yang mulia ini dan memerintahkannya agar mengenyahkan tidur, selimut dan berhangat-hangat guna menyongsong panggilan jihad, berjuang dan menempuh jalan penuh ranjau; ini tergambar dalam firmanNya: “Hai orang yang berselimut! bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2).
Melalui ayat-ayat itu Alloh memerintahkan untuk memberi peringatan kepada kerabat-kerabatnya, kemudian kaumnya, lalu kepada bangsa arab dan smua manusia di muka bumi.
Orang pertama yang beriman kepadanya dari kalangan dewasa adalah sahabatnya sendiri yang bernama Abu Bakar,dari kalangan wanita adalah isterinya sendiri Khodijah binti Khuwailid, dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abu Tholib, sedangkan dari kalangan budak adalah Zaid bin Haritsah. Periode ini berlangsung selama 3 tahun. Rasulloh bersama kaum mukminin berkumpul di rumah Arqom bin Abi al-Arqom untuk mengajarkan urusan agama mereka. Sejak saat itu orang qurais telah menyatakan permusuhan kepadanya. Pada masa itulah dikenal istilah assabiqunal awwalun atau orang-orang yang pertama memeluk islam. Baru setelah turun surat al-Hijr ayat 94 Rasul mulai menjalankan dakwahnya untuk umum.
Langkah pertama yang di ambil oleh rasladalah mengumumkan islam kepada seluruh khalayak umum. Maka, Rasulloah naik ke bukit Shafa dan memanggil orang-orang Mekkah. Beliau bersabda, “bagaimana pendapat kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa di lembah sana ada seekor kuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian mempercayai apa yang saya ucapkan?” Mereka menjawab, “Ya, kami percaya karena kami belum pernah mendapatkan engkau berdusta.” Maka, Rasulloh bersabda “Ketahuilah bahwa sesunggguhnya aku memberi peringatan kepada kalian tentang siksa yang sangat pedih. Lalu Rasulloh mengajak mereka beriman kepada Alloh.
Pada kesempatan itu Abu Lahab berteriak : ” Celakalah engkau hai Muhammad, untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” sebagai balasan terhadap apa yang dikatakan oleh Abu Lahab, maka turunlah ayat yang membalas Abu Lahab, dan dinamakan surah al-Lahab 1-5 :
Artinya :
“1. Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa. 2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. 3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. 4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu baker. 5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”
Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. isteri abu Lahab disebut pembawa kayu bakar Karena dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan Nabi Muhammad SAW dan kaum muslim.
Reaksi keras juga bermunculan menentang dakwah Nabi Muhammad SAW, tapi usaha-usaha dalam meyebarkan dakwah Islam ini terus berlangsung dan tidak pernah mengenal kata lelah sehingga hasil yang diraih mulai nyata. Jumlah pengikut Nabi yang pada awalnya hanya belasan orang dan hanya dari kalangan kerabat dan sahabat semakin hari makin bertambah. Hampir setiap hari ada yang menyatakan diri sebagai seorang Islam dan mengislamkan diri serta keluarga mereka. Mereka kebanyakan adalah wanita, kaum budak, pekerja, kaum, miskin dan lemah. Meskipun kebanyakan dari pemeluk agama Islam adalah dari kaum lemah namun semangat Islam mereka sangat keras dan kuat, dan mereka berperan dalam perjuangan Islam dan mensosialisasikan Islam kepada kerabat dan keluarga mereka masing-masing, sehingga perkembangan Islam semakin tampak dan besar.
Tantangan terbesar dalam perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW adalah dari kaum penguasa dan pengusaha Mekkah, kaum feodal dan kaum pemilik budak. Karena ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW bertentangan dengan tradisi lama mereka dan mereka khawatir nilai tradisi yang telah mereka anggap sebagai Tuhan akan dinodai oleh ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Disamping itu, mereka juga khawatir akan sistem dan struktur masyarakat akan berubah dan kepentingan dagang mereka akan terancam dengan kehadiran ajaran Nabi Muhammad SAW yang menitik beratkan terhadap keadilan sosial dan persamaan derajat.
Usaha demi usaha terus dilakukan untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad tersebut, tapi Rasulullah terus menyampaikan amanah ajaran agama Islam yang mulia ini. Rasulullah menyampaikan agama dengan jalan hikmah (kebijaksanaan) dan membantah serta memberikan pengajaran dengan cara yang baik kepada seluruh umat manusia, sesuai dengan Firman Allah pada surah An Nahl ayat 125 yang berbunyi :
Artinya : ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Dan pada surah Al Mu’minun ayat 96 Allah juga memerintahkan kepada Nabi untuk sabar terhadap apa yang dilakukan kaum kafir terhadap dirinya dan memperlakukan mereka dengan hasanah (baik) :
Artinya : “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”.
Maksudnya perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan kaum musyrikin yang tidak baik itu hendaklah dihadapi oleh Nabi dengan yang baik seperti dengan memaafkannya, Asal tidak membawa kepada Kelemahan dan kemunduran terhadap dakwah Islam.
Namun demikian, perlawanan demi perlawanan dari kaum quraisy tiada henti-hentinya menghujam pada kaum muslimin. Mereka tetap berusaha untuk membinasakan kaum muslimin. Terutama Nabi SAW. Melihat kondisi itu akhirnya Nabi memberi keputusan untuk mengungsikan sahabat-sahabat beliau ke luar dari Mekkah untuk sementara waktu ke daerah Abessinia (nama kuno dari Ethiopia) sebuah negara di Afrika Timur, Dan Nabi Muhammad SAW memberikan instruksi kepada umat Islam untuk menyebar keseluruh negeri untuk menyelamatkan diri sementara waktu, dan beliau memberi isyarat untuk pergi ke Abessinia yang pada saat itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Najsyi, dan masyarakat disana kebanyakan menganut agama monotheis (Nasrani) yang pada dasarnya sama dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan dalam Al-Qur’anul Karim pun nama Isa disebut sebagai salah satu nabi dari umat Islam.
Maka berangkatlah beberapa orang ke daerah tersebut, diantaranya yang berangkat adalah Usman bin Affan beserta isterinya Ruqayyah, Abu Salamah beserta isterinya, Abu Sabrah bin Abi Rahm beserta isterinya, Ummu Kalsum dan lainnya, yang berjumlah 15 orang. Muhajirin tersebut berangkat menuju Abessinia melewati Laut Merah.
Setelah berada disana untuk waktu kurang lebih tiga bulan para Muhajirin tersebut akhirnya kembali lagi ke Mekkah. Sesampainya disana mereka masih saja mendapat perlakuan yang keras dari kaum Quraisy dengan perlakuan dan ancaman akan dibunuh tetap mereka terima. Nabi Muhammad SAW memerintahkan mereka untuk kembali ke daerah Abessinia untuk sementara waktu, hingga keadaan di Mekkah stabil dan mereka aman untuk menetap kembali. Mereka mendapat perlindungan dan penghormatan dari Raja Abessinia, karena dianggap ajaran Muhammad sama dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa, dan Isa a.s. Beberapa orang ada yang menetap dan kebanyakan kembali ke Madinah, setelah mendengar hijrahnya Nabi Muhammad ke daerah Madinah untuk menghindari panganiyayaan dari kaum Quraisy.
Tidak dapat disangkal bahwa peranan Abu Tholib amat besar dalam pertumbuhan islam. Sebagai orang yang dituakan dan orang yang dihormati dalam masyarakat Quarais dia tetap di segani para pembesar Qurais sehingga selagi Abu Tholib masih hidup orang-orang Qurais masih tetap enggan untuk memusnahkan nabi dan para pengikutnya oleh karenanya berbagai upaya dilakukan oleh mereka untuk mematahkan semangat perjuangan Nabi termasuk dengan sarana bujukan dan rayuan keni’matan duniawi.
Pada tahun sepuluh kenabian pamannya Abu Tholib meninggal dunia. Yang amat menyidihkan nabi adalah kenyataan bahwa pamannya Abu Tholib pelindung perjuangan islam yang dilakukan Nabi, meninggal dunia sebelum mengikuti ajaran Nabi. Belum lama setelah pelindungnya meninggal nabi harus mengalami kesedihan berikutnya. Khotijah istri tercinta harus pulang menghadap Alloh. Disamping sebagi istri Khotijah sebagai pendukung moril dan penunjang dana bagi perjuangan Nabi. Hal itu membuat nabi sangat sedih.
3.Hikmah perjalanan Nabi Muhammad SAW di Mekkah
Dari sekian panjang perjalanan dan perjuangan Rasul untuk menegakkan islam, dapat diambil hikmah :
a.Menyadari bahwa keuletan dan kesabaran dalam menegakkan agama Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah.
b.Memahami bahw tugas Rasul hanya sekedar menyampaikan perintah Allah dan tidak dapat memberikan hidayah, meskipun ke keluarga terdekat sekalipun.
c.Meneladani sikap nabi Muhammad yang tegar dan kukuh dalam melakukan tugasnya walaupun dalam kondisi dan memiliki banyak rintangan.
d.Berbuat baik akan mendapatkan cobaan dari Allah untu menambah Iman kita.
Pelajaran pokok dari dakwah rasul adalah tentang pokok-pokok ajaran islam, antara lain beriman kepada Alloh, rasul-Nya dan hari yang kemudian, serta amal ibadah yaitu sholat, adapun zakat belum diperinci di Mekkah, bahkan zakat pada waktu itu berarti sedekah pada fakir miskin dan anak-anak yatim selain itu nabi juga menyuruh manusia untuk berahklak baik.
Sedangkan pelajaran yang dapat kita ambil dari peribadi rasul dalam berdakwah antara lain pantang menyerah, bekerja keras, rajin berkholwat (riyadhoh, berlatih), hidup sederhana mempelajari pelajaran sesuai dengan kondisinya, konsisten menjaga amanah, mampu berdampingan dengan non-muslim berlaku sebagai masyarakat madani.

C.KESIMPULAN
1.Sesudah Nabi Muhammad SAW brusia 40 tahun barulah mendapatkan wahyu untuk menyiarkan risalah dari Alloh SWT (QS. Al-Alaq 96;1-5) dan dipertegas dengan turunnya wahyu yang kedua untuk menjalankan perintah dakwah (QS. Al-Muddatstsir 74;1-7)
2.Sistem dakwah yang dilakukan di mekkah pada awal perjuangan beliau dengan sembunyi-sembunyi atau dengan menggunakan pendekatan individu internal. Pada fase inilah terjadi istilah assabiqunal awwalun atau orang-orang pertama memeluk islam. Baru pada saat turunnya (QS. Al-Hijr ayat 94) mulai menjalankan dakwahnya untuk umum.
3.Pada masa dakwah terbuka inilah tantangan mulai dilancarkan oleh kaum-kaum yang tidak menghendaki ada ajaran baru yaitu islam. Sehingga beliau memutuskan beberapa kali untuk meninggalkan kota Mekkah. Yang pertama beliau berhijrah ke Etopia untuk mendapatkan perlindungan dari raja Negus yang terkenal adil dan akhirnya hijjrah ke Yatsrib (al-Madinah al-Munawarah) dan menjadi tonggak awal dari kejayaan umat islam.
4.Sebelum Nabi SAW hijjrah beliau mendapat rintangan berat tetkala ada di Mekkah seperti halnya pengucilan terhadap bani Hasyim.sesudah itu Nabi SAW mengalami masa kesediahan yaitu ditinggal oleh orang-orang yang di cintainya yaitu istri pertama beliau Siti Khotijah dan paman beliau Abu Tholib, sebagai seorang pelindung Nabi SAW dari serangan kaum qurais. Itu merupakan awal permusuhan langsung kaum qurais kepada Nabi SAW sehinnga harus memutuskan Hijjrah ke Yatsrib beserta 150 umat islam yang ada.
5.Pada awal-awal penyebaran islam era Mekkah, belum mencangkup seluruh aspek kehidupan masyarakat atau peradaban. Mengenai hal tersebut disebabkan adanya fase awal membutuhkan sosialisasi untuk dapat dikenal dan di terima oleh masyarakat setempat. Jadi unsur-unsur kemasyarakatan seperti politik, ekonomi dan budaya belum tersentuh perubahanyang berdasarkan ajaran islam.
 DAFTAR PUSTAKA
Al-‘Usairy, Ahmad . Sejarah Islam. Jakarta. Akbar Media Eka Sarana. 2003.
Djouhan, M. Widda. Sejarah Peradapan Islam. Ponorogo. LPPI STAIN Ponorogo. 2009.
Su’ud, Abu. Islamologi, Sejarah Ajaran, dan Peranan dalam Perdaban Umat Islam. Jakarta. Riveka Cipta. 2003.
Supriyadi. Dedi. Sejarah Peradaban Islam.Bandung. Pustaka Setia. 2008.
Yunus, Muhammad. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta. Hida Karya Agung. 1981.
http://ari2abdillah.wordpress.com/2007/06/25/dakwah-periode-mekah/
http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad
http://peperonity.com/go/sites/mview/sejarahend/18186283
http://www.2lisan.com/readmore/sejarah+dan+perjuangan+nabi+muhammad+saw+di+makkah.
http://www.scribd.com/doc/9470519/Makalah-Agama